Ruangmayaku


Sinta Carolina, indie journalist
artikel, book review, cerita, curhat, jokes, opini, sastra



Thursday, June 02, 2005
Kupat Tahu Pojok dan Gudeg Manggar

Senin tanggal 30 Mei kemarin kami melakukan perjalanan dalam rangka pra survey ke Losari. Dalam perjalanan ini kami makan di dua tempat yang berbeda yang masing-masing menawarkan cita rasa yang khas dan masakannya sudah cukup terkenal, yaitu Tahu Pojok di Magelang dan Gudeg Manggar di Eva Coffee House Bedono, Ambarawa. Simak petualangan kuliner kami berikut ini:


foto by: Sinta
tampak depan warung kupat pojok, magelang

 
foto by: Sinta

Eva Coffee House

Tahu Pojok Magelang

Kami menyempatkan diri mengisi perut yang keroncongan karena belum sarapan pagi di warung Tahu Pojok Magelang. Warung bernuansa hijau ini berlokasi di jalan Tentara Pelajar km 14 Magelang. Menu yang disediakan adalah kupat tahu, yang bahan dasarnya adalah tahu, beberapa potong ketupat yang dipotong kecil-kecil, sayuran seperti taoge, kol dan seledri sebagai taburan, bawang goreng, serta kuah lezat dari bahan kacang dan gula jawa. Untuk teman makan kupat tahu, disediakan gorengan seperti tahu susur, tempe goreng tepung, dan udang goreng tepung yang ditusuk seperti sate. Pokoknya pengunjung tinggal pilih apa yang disuka. Mau tau rasanya? Hmmmh...rasanya cukup lezat dan sehat untuk yang ingin berdiet. Pengunjung tinggal memilih ingin dibuatkan kupat tahu yang pedas atau tidak. Untuk satu porsi kupat tahu yang lezat pengunjung tak perlu merogoh kocek terlalu dalam karena harga satu porsinya cuma Rp. 4500,-. Murah meriah bukan?


foto by: Sinta
Kupat tahu siap dihidangkan













Gudeg Manggar di  Eva Coffee House
Untuk makan siang hari itu kami memutuskan untuk sekali lagi singgah di Eva Coffee House yang berlokasi di jalan raya Bedono, Ambarawa. Eva Coffee House sendiri merupakan salah satu coffee house yang tertua, didirikan tahun 1953. Walaupun namanya Coffee House, ternyata tempat ini tidak melulu menyajikan minuman kopi, melainkan juga menyajikan berbagai macam jenis masakan yang rasanya cukup enak. Masakan khasnya antara lain gudeg manggar dan lontong rawon. Sedangkan minuman khasnya adalah es kopi. Menurut informasi yang saya dapatkan, Eva Coffee House juga memiliki tempat pengolahan kopi sendiri dan mengeluarkan produk-produk seperti kopi bubuk dalam kemasan serta sirup kopi.
Seperti yang sudah menjadi kebiasaan di coffee shop ini, sebelum makanan pesanan datang, disajikan sepiring tahu rebus berkuah yang masih hangat dan piring-piring kecil. Biasanya tahu ini dimakan dengan sambal kecap yang sudah disediakan atau cabe rawit hijau bila suka. Saran saya, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi tahu ini, karena rasanya enak dan gurih.
Dalam kunjungan kali ini kami memesan gudeg manggar untuk makan siang kami. Gudeg ini kami bagi berdua karena satu porsinya cukup mahal, yaitu Rp.35.000,-. Gudeg manggar merupakan salah satu menu andalan. Gudeg manggar ini terbilang istimewa karena tidak seperti gudeg lainnya yang terbuat dari nangka muda, gudeg manggar dibuat dari bunga kelapa yang masih muda. Untuk paket sajiannya terdiri dari gudeg, ayam, telur serta daging dimasak santan dengan kuah pedas dan nasi. Rasanya enak, dan beda dari rasa gudeg biasa.

foto by: Sinta
gudeg manggar


O ya, di Eva Coffee House ini selain tersedia berbagai menu masakan, pengunjung bisa membeli kopi dan sirup kopi yang dijual di sini sebagai oleh-oleh. Harga sirup kopi untuk satu botolnya Rp. 20.000,-.

Posted at 03:50 pm by carolkarim
Comments (5)  

Tuesday, May 31, 2005
Libur Sehari...Main Seharian di Borobudur 2

sambungan Hunting Foto Pemandangan


   


foto by: Pulung

Jadilah kami berputar-putar sejenak melihat-lihat suasana Candirejo. Setelah Candirejo, kami menuju ke beberapa titik pemandangan yang memperlihatkan sosok megah Borobudur di kejauhan, salah satunya di sebuah jalan dengan pemandangan sawah di kanan-kirinya dan jajaran pohon kelapa yang menaunginya. Setelah sampai, langsung saja kami turun dan mulai memotret. Objeknya macam-macam, mulai pemandangan dengan Borobudur di kejauhan, sepeda yang diparkir di tepi sawah, sampai kakek tua yang sedang angon bebek di sawah. Aku dan suamiku turun dan mendekati si kakek dan berjalan di antara pematang sawah Rasanya seperti berlibur di sawah paman, hehehe...

 



Roy Katong


foto by: Rully

Setelah puas memotret, kami kembali ke penginapan Lotus 2 untuk melihat persiapan prosesi melarung sesaji di kali progo. Di sana kami menemui Mas Nur dan Indah yang sedang bersiap-siap menaikkan janur-janur yang dianyam membentuk bunga lotus di atas mobil bak terbuka. Rupanya janur-janur inilah yang nantinya akan dilabuh di kali Progo sebagai salah satu rangkaian prosesi Waisak. Janur berbentuk bunga lotus ini disebut roy katong. Setelah persiapan selesai, mobil bak terbuka itu segera berangkat menuju lokasi dengan diikuti oleh mobil kami. Ternyata lokasinya di tepi kali Progo di bawah jembatan. Di dekat jembatan mobil mengambil jalan turunan berbatu yang ternyata merupakan jalan tembus menuju tepian kali Progo. Setelah sedikit susah payah off road di jalan menurun itu, sampailah kami di lokasi. Kami membantu menurunkan roy katong dan beberapa oncor yang dibuat untuk menerangi jalannya upacara. Di hadapan kami terbentang aliran kali Progo yang cukup deras dengan debit air yang lumayan. Roy katong pun segera dijejerkan di tanah. Ada kira-kira 50 buah roy katong yang akan dilarung. Di tengah masing-masing roy katong ditaburkan kuntum-kuntum bunga seperti mawar dan kenanga. Kami pun mulai sibuk memotret Indah yang membantu menaburkan bunga-bunga. Di seberang sungai tampak beberapa pemuda mandi. Mungkin karena sudah terbiasa, maka tanpa malu-malu meskipun mengetahui keberadaan kami, mereka melepaskan pakaian dan mulai mandi. Kami yang perempuan terpaksa memalingkan muka dan tidak mengarahkan pandangan ke arah mereka. 

 

Acara prosesi melarung roy katong ini digelar selepas magrib, namun kami memutuskan untuk pulang sebelum acara dimulai karena hari sudah semakin gelap. Tinggallah Indah di sana untuk merekam prosesi dengan kamera videonya, ditemani oleh beberapa teman dari greenmap yang akan bergabung kemudian.

Menurut Mas Nur, prosesi ini baru pertama kalinya diadakan dalam rangkaian peringatan hari raya Waisak. Warga desa sekitar Borobudur mendapat kesempatan untuk menjadi semacam EO dan bertugas menyiapkan upacara untuk umat Buddha yang berdatangan dari luar daerah ini. Di sinilah aku melihat betapa indahnya semangat multikulturalisme dan interaksi antar agama terjalin dengan erat dalam semangat kebersamaan, antara umat Buddha dan umat beragama lainnya yang tinggal di daerah sekitar Borobudur. Andaikan semangat itu tetap terpelihara di negeri kita, aku yakin Indonesia tidak akan terkoyak dan tercabik oleh sentimen-sentimen fundamentalisme yang membabi buta.  




(sampai jumpa dalam cerita Borobudur lainnya)


Posted at 01:06 pm by carolkarim
Comments (1)  

Wednesday, May 25, 2005
Libur Sehari...Main Seharian di Borobudur

Hari ini rasanya semangat lagi setelah kemarin menghabiskan hari libur Waisak dengan main ke Borobudur dan sekitarnya. Mau tau ceritanya? Yukk....

Berangkat
Kami berangkat dari Jogja pukul 10.30-an. Matahari sudah mulai tinggi dan udara lumayan panas. Kami bertiga, aku, suamiku dan temanku Rully berangkat dengan mengendarai mobil Rully. Aku duduk di depan, mendampingi suamiku yang menyetir mobil. Perjalanan berlangsung lancar, kami mengambil jalan melalui daerah Turi, karena selain jalannya lebih sepi, pemandangannya pun indah menghijau dengan pohon-pohon salak di kanan kiri jalan. Perjalanan Jogja-Borobudur biasanya ditempuh selama kurang lebih satu jam, tapi kali ini kami menghabiskan waktu hampir 1 setengah jam karena sempat mampir untuk fotokopi.

Wawancara di Pasar Relokasi


suasana di kios Pak Sarnun
foto by: sinta

Tujuan kami ke Borobudur adalah membantu Rully untuk survey Pasar Relokasi. Pasar relokasi sendiri merupakan deretan kios terdiri dari 17 lorong yang berada di halaman kompleks Taman Wisata Borobudur. Sebutan ngetopnya adalah pasar uler, karena lorong berkelok-keloknya. Biasanya pengunjung Borobudur sengaja diarahkan untuk melewati kios-kios yang berkelok-kelok ini. Ada semacam guyonan yang mengatakan kalau keluar dari Borobudur, masuk ke pasar Relokasi berkaki dua, dan keluar berkaki empat. Maksudnya, pengunjung pasti merasa kesal setelah melalui pasar ini, karena selain merasa lelah usai menaiki candi, lelah pula ditawari oleh pedagang asongan yang agresif, ditambah lagi merasa terjebak harus melalui pasar yang berkelok-kelok seolah tanpa ujung ini, jadi yang keluar dari mulut pengunjung selain keluhan adalah makian hewan berkaki empat (kayaknya gak usah disebut aja ya...).
Nah, Rully membutuhkan bantuanku untuk mewawancarai ketua pedagang Pasar Relokasi yang bernama Pak Sarnun. Karena sudah janjian sebelumnya, ketemulah kami dengan Pak Sarnun di luar pagar, di dekat Hotel Lotus 1. Kami juga bertemu dengan Indah di sana, seorang teman yang juga ikut membantu survey ini. Setelah itu kami dengan diantar Pak Sarnun pun masuk ke pasar relokasi lewat pintu keluar 2 (di pasar relokasi ada 3 pintu keluar), dengan terlebih dulu masuk lewat loket gara-gara disuruh lapor dulu oleh satpam. Sebelumnya kami tidak masuk dari loket jika survey ke pasar relokasi melainkan lewat jalan pintas, tapi karena ketemu pak satpam galak yang sok jaga wibawa dan super duper ngeyelnya, jadinya kami harus berjalan agak jauh ke pintu loket untuk melapor.
Sampai di pasar relokasi kami diajak beristirahat oleh Pak Sarnun di salah satu warung yang menjual makanan dan minuman. Oleh Pak Sarnun kami disuguhi es dawet dan teh botol. Rasanya nikmat sekali minum es setelah berjalan cukup jauh di bawah terik matahari yang tanpa malu-malu membenderangi bumi (hehehhe...bentukan kata baru nih, membenderangi...), mencubit kulit kami. Setelah minum, kami pun membagi tugas. Aku dan suamiku masing-masing bertugas mewawancarai Pak Sarnun dan mendokumentasikannya dengan video. Rully dan Indah akan berkeliling pasar untuk memotret. Wawancara dilangsungkan di kios milik Pak Sarnun, di luar pasar relokasi di dekat pagar. Cukup banyak pertanyaan yang kuajukan, antara lain tentang sejarah dan latar belakang berdirinya pasar relokasi, bagaimana tanggapan pengunjung, berapa jumlah kios dan pedagang yang ada, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Sebenarnya wawancara tentang Pasar Relokasi sebelumnya sudah kulakukan bersama Mas Nurrohmat, seorang pemandu dan aktivis dari Jaker (Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur). Jadi wawancara ini semacam cek n ricek saja dari wawancara sebelumnya.
Wawancara berlangsung sekitar satu jam. Setelah selesai, Rully dan Indah bergabung dengan kami, dan sekali lagi Pak Sarnun yang murah hati itu menyuguhi kami dengan minuman dingin dari kiosnya dengan cuma-cuma.

Makan Siang
Tak terasa hari makin panas, dan perut kami mulai keroncongan. Kami pun memutuskan untuk pamit dan meninggalkan warung Pak Sarnun setelah lebih dulu berterima kasih kepada Pak Sarnun dan istrinya. Kami memutuskan untuk makan bakso langganan teman kami Titin, yang penduduk asli kecamatan Borobudur, yang ada di jalan Pramodya wardani. Warungnya lumayan ramai dan hampir-hampir tidak ada tempat buat kami. Karena lapar, tak berapa lama semangkok bakso licin tandas berpindah ke perutku. Rasanya, cukup lumayan, mengingat sulit untuk mencari tempat makan yang enak di daerah sekitar Borobudur.
 
Hunting Foto Pemandangan
Selesai makan, perjalanan dilanjutkan untuk mencari lokasi yang bagus untuk hunting foto. Kami mengarahkan mobil menuju desa Candirejo, yang sudah kami kenal dengan baik. Aku dan Rully ingin menunjukkan desa itu kepada suamiku.

(bersambung)


Posted at 04:02 pm by carolkarim
Comments (2)  

Wednesday, May 18, 2005
Survey di Losari

Pasar hewan dengan sapi-sapi yang terlihat cantik dan sehat serta pemandangan alam yang indah di sekitar candi Umbul menjadi pengalaman tak terlupakan dari perjalanan ke Losari kali ini.

Hari Sabtu 14 Mei 2005 sekali lagi kami berkunjung ke daerah Losari dan sekitarnya untuk mengadakan pemotretan sekaligus survey lapangan. Tepat pukul 7 pagi rombongan kecil kami berangkat meninggalkan kota Jogja untuk menempuh perjalanan selama 2 jam ke Losari. Cuaca cerah tak berawan mengiringi perjalanan kami. Sebelum sampai di Losari diputuskan untuk mampir di pasar Grabag untuk mencari sarapan pagi.

Pasar Hewan Grabag

Kira-kira hampir satu kilometer sebelum Losari, mobil berbelok ke kanan, menuju wilayah Grabag. Kami menyempatkan diri untuk bertanya kepada penduduk sekitar di mana lokasi pasar Grabag. Perjalanan kemudian diteruskan sesuai arah yang diberikan, melewati areal persawahan, rumah-rumah penduduk, jembatan berdesain unik dan ketika tiba-tiba hamparan pemandangan indah pegunungan membentang di hadapan kami, kami memutuskan berhenti untuk melakukan pemotretan. Maka turunlah beberapa pemotret amatir dengan gayanya masing-masing, sibuk mengabadikan lukisan illahi ini.
Di tepi jalan tempat kami berhenti, tampak beberapa orang berjalan beriringan sambil membawa hewan ternak seperti kambing atau sapi. Melihat fenomena menarik ini, kami pun menduga bahwa kemungkinan di sekitar wilayah ini sedang ada pasar hewan. Ternyata dugaan kami benar. Usai melakukan pemotretan, kami melanjutkan perjalanan dan berbelok ke kiri. Dan benarlah, di sebelah kanan jalan terlihat keramaian sebuah pasar hewan yang cukup menarik perhatian. Kami pun memarkir mobil untuk kemudian turun mampir.
Bau khas hewan ternak sontak menyergap hidung kami begitu kami turun dari mobil. Orang-orang terus berdatangan sambil membawa hewan ternak yang akan diperjualbelikan. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik mobil. Pasar ini ternyata cukup luas dan ramai. Di mana-mana terlihat bauran penjual dan pembeli seperti yang kerap ditemui di pasar tradisional. Di area pasar terlihat sapi-sapi dan kambing dalam berbagai jenis dan ukuran. Ada yang sudah dewasa, ada pula yang masih kecil. Sapi-sapi yang dijual terlihat cantik, bersih, sehat dan terawat dengan baik. Disediakan sejumlah area khusus untuk menambatkan sapi yang dilengkapi dengan saluran air untuk tempat memandikan sapi.

foto by: sinta
suasana pasar hewan grabag
Sementara yang lain sibuk memotret, aku memutuskan untuk mencari seseorang untuk ditanyai mengenai pasar hewan ini. Setelah ketemu dengan seseorang yang tampaknya familiar dengan pasar ini, tanpa membuang waktu, aku pun menanyakan beberapa hal. Ternyata pasar hewan ini tidak setiap hari diadakan, melainkan pada hari-hari tertentu berdasarkan tanggalan Jawa. Pasar hewan Grabag ini sendiri buka setiap hari Legi, mulai pukul 07.00-15.00 WIB. Selain Pasar hewan Grabag, pada hari-hari lainnya di sekitar wilayah Jawa Tengah bergantian digelar pasar hewan, seperti pada hari Pahing di Boyolali, yang 4 kali lipat besarnya dari Pasar Hewan Grabag dan terbesar di Jawa Tengah, hari Pon di Bawean Ambarawa, hari Wage di Sanggrahan, dan hari Kliwon di Muntilan.
Setelah puas bertanya, aku pun menggabungkan diri dengan yang lain untuk berjalan-jalan di sekitar pasar dan ikut memotret. Selesai melihat-lihat dan memotret kami melanjutkan perjalanan menuju pasar Grabag untuk mencari sarapan.  

Menjemput Lurah Desa Gemawang
Seusai sarapan dengan bakmi rebus dan ayam goreng kampung yang cukup menghentikan kokok ayam di perut kami yang keroncongan di warung sekitar pasar Grabag yang masih cukup ramai dengan aktivitasnya, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Losari.
Kami mampir sebentar di Losari Coffee Plantation untuk bertemu dengan Pak Eko, salah seorang pegawai di sana. Namun alih-alih bertemu dengan Pak Eko, kami malah bertemu dengan Bu Anita, salah seorang manajer di sana yang menjamu kami dengan minuman segar seperti orange juice, es kopi dan kawista soda yang merupakan minuman andalan resort ini. Karena sudah kadung janji dengan Pak Bambang, lurah desa Gemawang, tak lama kemudian kami pun undur diri untuk menemui beliau. Ternyata kantor kepala desa Gemawang tidak terlalu jauh dari kompleks Losari Coffee Plantation. Di sini kami menemui Pak Bambang, menanyakan beberapa hal untuk keperluan survey kami, dan mengajak beliau untuk berkeliling ke desa-desa sekitar Losari.
Pak Bambang sendiri dulunya merupakan salah seorang staf di Losari Coffee Plantation yang diminta oleh warga untuk menjadi kepala desa Gemawang. Beliau sendiri fasih berbahasa Inggris dan menjadi relawan pengajar bahasa Inggris di beberapa sekolah di sekitar tempat tinggalnya.

Desa Klengkeng
Dalam perjalanan tak henti-hentinya Pak Bambang bercerita mengenai wilayah "kekuasaannya". Beliau bercerita tentang Desa Pingit sebagai daerah sentra klengkeng, yang buahnya banyak dijajakan di sepanjang jalan menuju Ambarawa. Buah klengkeng lokal rasanya lebih manis menurut beliau. Sedangkan di desa Gemawang sendiri terdapat peternakan madu yang dikelola oleh penduduk, PTP perkebunan coklat dan kopi (PTPN 9 Banaran). Karena kami ingin melihat desa-desa tradisional dengan pohon klengkeng di depan rumah-rumah penduduknya, kami pun diantar oleh beliau ke Dusun Gedipan yang termasuk wilayah desa Ngipik. Di dusun yang cantik ini kami mampir di salah satu rumah penduduk yang di depan rumahnya terdapat pohon klengkeng. Di sekitar rumah itu terdapat beberapa rumah berarsitektur tradisional dengan atap kampung yang halaman depannya dihiasi dengan pohon-pohon bunga yang cantik ataupun pohon klengkeng dan sejumlah pohon lainnya. Sungguh dusun kecil yang cantik.

Saujana Candi Umbul

Foto by: Sinta
Saujana di sekitar candi Umbul








Foto by: Sinta
Anak-anak berenang di candi umbul


Dari Dusun Gedipan, perjalanan dilanjutkan menuju Candi Umbul yang masih termasuk wilayah Desa Grabag, Kabupaten Magelang. Pemandangan yang indah segera membentang di depan mata begitu kami tiba di wilayah sekitar Candi Umbul. Kompleks candi umbul sendiri terletak di bawah. Kami harus melewati jalan yang menurun untuk menuju ke sana. Yang membuat kami takjub adalah pemandangan indah di sekitarnya. Ada sungai yang mengalir deras dengan batu-batu kalinya yang berwarna hitam, sawah-sawah terasiring, pohon kelapa, dan beberapa kali kecil. Candi ini bernama Candi Umbul karena di dalam candinya terdapat mata air atau umbul dalam bahasa Jawa. Ketika kami memasuki areal kompleks, terlihat beberapa anak lelaki sedang berenang-berenang sambil bermain air di mata air candi umbul. Ada dua kolam di sana. Sayang sekali pemandangan indah di sekitarnya terhalang tembok. Andai saja temboknya tidak ada bisa dibayangkan berenang di mata air candi umbul sambil menikmati pemandangan alam yang indah.  

Ayam Cemani
Di sekitar candi Umbul, kami melihat beberapa ekor ayam yang seluruh tubuhnya berwarna hitam, yang disebut juga ayam Cemani, yang menurut Pak Bambang banyak terdapat di daerah Ambarawa dan sekitarnya. Ayam-ayam yang bebas berkeliaran sampai di halaman candi itu ternyata milik penduduk setempat.

Sale Pisang Khas Telomoyo
Waktu telah menunjukkan pukul 13.30 ketika kami meninggalkan areal Candi Umbul. Atas saran Pak Bambang, kami mampir untuk membeli oleh-oleh berupa sale pisang khas Telomoyo. Tidak hanya membeli, kami pun sempat menengok dapur pembuatannya. Usaha ini sendiri merupakan jenis home industry yang dikerjakan secara turun-temurun. Kami membeli sale pisang basah yang fresh from the oven yang rasanya memang benar-benar lezat. Selain sale pisang yang basah, dijual pula keripik pisang dan sale pisang goreng.

Makan Siang di Eva Coffee
Tepat pukul 14.00 WIB mobil yang kami tumpangi berhenti di Eva Coffee restoran. Sebuah rumah makan yang dulunya merupakan warung kopi tertua yang terletak di desa Bedono. Harga makanannya memang cukup mahal, tapi rasanya cukup sesuai. Kami memesan tahu campur, nasi rawon, dan bakso. Untuk minumnya kami memesan soda gembira, es jeruk dan es kopi, yang rasanya istimewa dan patut mendapat acungan jempol. Selesai makan, kami mengantarkan Pak Bambang kembali ke kantor kepala desa dan melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja.


 







Posted at 03:20 pm by carolkarim
Comments (1)  

Wednesday, May 11, 2005
Kesibukan pun Berlalu

Fiuhhhh....lega banget rasanya...acara Sabtu kemarin, studi ekskursi ke beberapa karya arsitek Eko Prawoto berjalan lancar. Sambutan peserta cukup baik, mereka sangat antusias mengikuti acara ini. Yah, walaupun cukup sport jantung juga di awal acara karena peserta begitu banyak sedangkan tempat untuk menampung mereka berkumpul cukup sempit. Tapi selebihnya sih lancar-lancar aja, Alhamdulillah...

Respons para pemilik rumah pun sangat positif. Pak Jaduk Ferianto dan Bu Petra yang ramah dan hangat menyambut semua tamu mereka dengan tangan terbuka. Mereka bahkan menyediakan suguhan berupa kacang goreng dan air mineral. Demikian pula Pak Butet Kertarajasa yang selain bertindak sebagai tuan rumah (bahkan rela meluangkan waktu untuk acara ini) ikut menghadiri acara diskusi. Semua peserta tampak antusias dan mengagumi karya Pak Eko Prawoto yang dikenal akrab dengan lingkungan dan menggunakan materi serta teknologi lokal.

Pak Eko sendiri merasa surprised dan terharu dan senang dengan hasil pekerjaan kami, teman-teman dari Senthir dan Imayog. Bu Sita yang juga ikut dalam acara ini pun mengatakan kalau acara ini well organized. Tentu saja ini semakin memompa semangat kami untuk meneruskan membuat kegiatan seperti ini lagi di kemudian hari.

Acara hari minggunya pun berjalan lancar. Walaupun masih ngantuk dan badan pegal-pegal, tetap aja yang namanya pekerjaan harus diselesaikan. Jadi berangkatlah aku ke Borobudur untuk acara simulasi pemetaan peta hijau mandala Borobudur. Turun ke lapangan, masuk ke beberapa dusun di sekitar candi Borobudur, melewati jalan setapak, rumah-rumah penduduk, rumpun bambu, kebun tumpang sari, serta melihat beberapa mata air yang berada di lingkungan yang sepi, penuh rumpun bambu nan indah dan teduh.

Yah, selepas hari Sabtu dan Minggu, kesibukan pun berlalu. Tapi tetap saja ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan seperti membuat laporan kelompok untuk peta hijau, serta membuat laporan keuangan untuk studi ekskursi.

Yang namanya pekerjaan emang gak ada matinye....

Posted at 01:02 pm by carolkarim
Comments (1)  

Monday, May 09, 2005
Studi Ekskursi Eko Prawoto

Sebuah acara yang dibingkai dengan citra kampung,
mengangkat arsitektur lokal kampung Jogjakarta
Nikmati perjalanan "satu hari studi ekskursi"
untuk mengupas cerita dan segudang makna
di balik karya-karya Eko Prawoto

Temukan pengejawantahan alam-sosial-budaya
kampung Jawa dalam ruang-ruang dan bentuk arsitektural
Lihat betapa bebasnya ruang-ruang mengalir menyapa
setiap insan yang masuk ke dalamnya
Dengar alunan nada dan irama alam
yang menyatu di dalamnya
Rasakan hangatnya sentuhan matahari
yang menerobos di celah-celah ruangnya

...dan kau akan mengerti...

(leaflet kegiatan Studi Ekskursi Eko Prawoto)

Sabtu 7 Mei 2005, Senthir mengadakan acara studi Ekskursi ke beberapa rumah hasil karya arsitek Eko Prawoto, yang sarat dengan teknologi dan materi lokalnya. Acara ini berlangsung cukup sukses dengan jumlah peserta 100 orang dari berbagai universitas yang memiliki jurusan arsitektur, dan beberapa peserta dari institusi non jurusan arsitektur. Acara diisi dengan kunjungan ke rumah Jaduk Ferianto, Butet Kertarajasa dan pasangan Jeanny-Lantip yang semuanya berlokasi di daerah Bantul, Yogyakarta. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dengan seorang ketua kelompok dan masing-masing kelompok bergiliran dan saling bertukar tempat mengunjungi ketiga rumah tersebut. Seusai kunjungan, peserta mendapat kesempatan makan siang dan berdiskusi bersama Eko Prawoto. Di kesempatan ini Butet Kertarajasa sebagai salah satu pemilik rumah ikut menghadiri diskusi yang bertempat di Padepokan Bagong Kussudiharjo, Kasihan, Bantul.

Nantikan liputan lengkapnya di edisi mendatang.





Posted at 05:40 pm by carolkarim
Comments (1)  

Tuesday, May 03, 2005
Sibuk...sibuk...sibuk...

Duh, minggu pertama bulan Mei ini rasanya sibuk sekali. Banyak sekali kegiatan dan acara yang harus aku ikuti. Pertama, tanggal 5 Mei ke Losari, tapi inipun belum tentu jadi sih. Kedua, tanggal 6 Mei, ke Kotagede, ke rumah Rudy Pesik, nemenin bosku, tapi belum pasti juga. Ketiga, tanggal 7 Mei, ini udah pasti, hari H nya Ekskursi ke karya-karya arsitektur Eko Prawoto, masing-masing ke rumah Jaduk, Butet, Jeanny, dan berakhir di Gallery Cemeti dengan acara diskusi. Aku jadi panitia penyelenggara bersama teman-teman dari Senthir, sebuah organisasi anak muda pecinta heritage di Jogja dan Imayog, ikatan mahasiswa arsitektur yogyakarta. Keempat, tanggal 8 Mei, survey lapangan ke Borobudur dan sekitarnya dalam rangka pembuatan peta hijau mandala Borobudur. Jadinya hari-hariku dipenuhi oleh kegiatan rapat, rapat dan rapat.

Saking padatnya semua kegiatan ini, aku harus merelakan diri nggak ikut ke Jakarta bersama suamiku untuk menghadiri acara pernikahan saudara sepupunya. Duh, berarti harus jaga rumah sendirian nih.

Kalau sibuk terus begini, kapan bisa konsen bikin anak ya? He...he...he...

Posted at 06:11 pm by carolkarim
Comments (2)  

What's your personality type?

Sekali lagi, another quiz on my personality type...meski cuma ngibul-ngibulan, tapi paling nggak cukup bikin ge-er loh...

Your #1 Match: ENTJ

The Executive You are a natural leader - with confidence and strength that inspires others. Driven to succeed, you are always looking for ways to gain, power, knowledge, and expertise. Sometimes you aren't the most considerate person, especially to those who are a bit slow. You are not easily intimidated - and you have a commanding, awe-inspiring presence. You would make a great CEO, entrepreneur, or consultant.

Your #2 Match: INTJ

The Scientist You have a head for ideas - and you are good at improving systems. Logical and strategic, you prefer for everything in your life to be organized. You tend to be a bit skeptical. You're both critical of yourself and of others. Independent and stubborn, you tend to only befriend those who are a lot like you. You would make an excellent scientist, engineer, or programmer.

Your #3 Match: ENFJ

The Giver You strive to maintain harmony in relationships, and usually succeed. Articulate and enthusiastic, you are good at making personal connections. Sometimes you idealize relationships too much - and end up being let down. You find the most energy and comfort in social situations ... where you shine. You would make a good writer, human resources director, or psychologist.
Gimana, tertarik kan? Kalo iya, monggo, ikutan aja, just one click away kok...

Posted at 03:19 pm by carolkarim
Komentar dong...  

Apa jenis kelamin Otak Anda?

Mau tau jenis kelamin Otak Anda? Saya udah coba nih, ini dia hasilnya...
Your Brain is 53.33% Female, 46.67% Male
Your brain is a healthy mix of male and female You are both sensitive and savvy Rational and reasonable, you tend to keep level headed But you also tend to wear your heart on your sleeve

Silakan dicoba juga ya...tinggal klik aja kok...

Posted at 02:38 pm by carolkarim
Komentar dong...  

Thursday, April 28, 2005
Rapat Tim Inti Pembuat Peta Hijau

Hari Selasa tanggal 26 April 2005 mulai pukul 14.00 diadakan rapat bagi tim inti pembuat Peta Hijau Mandala Borobudur yang berlokasi di Jl. Pakuningratan 40, di sebuah rumah tua bekas markas tentara pelajar. Rapat tersebut dihadiri oleh Bapak Marco Kusumawijaya, Bu Sita, Bapak Amiluhur Soeroso, aku dan Rully dari Senthir, Ginanjar dari Imayog, Rohman, Lieke, Anang, Marcus dan kawan-kawan dari Greenmapper Jogja lainnya.

Dalam rapat ini dihasilkan beberapa kesepakatan sebagai berikut:
- pada tanggal 8 Mei 2005 mulai diadakan pemetaan kawasan Borobudur oleh seluruh tim.
- peta yang akan digunakan dalam pemetaan tersebut adalah peta desa Borobudur, peta rupabumi dan akan dicari peta wilayah Kedu.
- peta yang ada harus ditrace ulang dan didigitalisasikan untuk memudahkan pembagian wilayah kerja dan pengolahan data
- koordinator tim ditugaskan mencari segala referensi mengenai Borobudur
- disediakan tempat bekerja bagi tim pembuat peta hijau mandala Borobudur di ruangan Center for Heritage Conservation lantai dasar gedung sayap selatan Jurusan Arsitektur dan Perencanaan UGM 
- pemetaan aliran sungai perlu dilakukan sehingga perlu mengadakan kerja sama dengan tim pecinta alam dan peneliti sungai
- alat GPS dipinjamkan oleh Pak Marco untuk tim pembuat peta hijau
- pembuatan dokumentasi dan data base pekerjaan pembuatan peta hijau Mandala Borobudur dengan website khusus, ataupun weblog, foto-foto dan video
- proses pekerjaan tim pembuat peta hijau Mandala Borobudur akan didokumentasikan dalam bentuk foto maupun video

Posted at 12:11 pm by carolkarim
Comments (3)  

Next Page


Tentang Aku

Sinta, Married, Virgo, Writing, Reading, Music, Movies, Easy going, Friendly, Blacksweet, salad lover, Es Jeruk, Rujak, Warm, English, French, Indonesian, a litte bit Javanese, Literature, U2, Sting, Beatles, Alanis Morisette, Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira, Ahmad Tohari
   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed